Pagi ini aku terbangun
dan masih dalam keadaan lupa tak terjadi apa-apa antara aku dan kamu. Masih dalam
keadaan bahagia tanpa ada masalah. Saat itu aku yang baru terbangun dari tidur,
mengambil ponsel milik ku. Yang ku letakan di meja sebelah tempat tidur ku. Lalu
ku tekan tombol pembuka kuncinya. Dan aku berfikir sejenak, sudah jam 5 pagi
ponsel milik ku belum berdering dan tak ada ucapan “Good Morning Sayoong, jangan lupa solat subuh ya :* “ kemana
makhluk itu, gumam ku dalam hati. Ahh sudahlah mungkin dia masih tertidur lelap
bersama mimpi-mimpi indahnya.
Hmm sama sekali aku
lupa kejadian itu. Sudah jam 6 pagi aku masih menunggu pesan singkat itu, pesan
singkat yang setiap menit setiap detik selalu kamu ketik dengan jemari mu lalu
ku kirim ke ponsel milik ku. Tapi pesan itu tak kunjung datang.
Tuhan.... gumam ku
perlahan. Apa yang terjadi dengan aku dan dirinya ?? pertanyaan ku mulai
bercabang, setiap kali ku memperhatikan ponsel milik ku itu. Apa harus aku yang
terlebih dulu mengucapkan “SELAMAT PAGI”
ku rasa TIDAK !! saat itu aku
berfikir bahwa kamu sedang lelah dengan semua tugas mu. Mungkin !!!
Baru ku sadari saat
ponsel ku berdering, cepat-cepat ku raih dan ku baca pesan singkat itu. Ku kira
itu pesan singkat dari mu untuk ku -_- di pagi ini. Nyatanya TIDAK !! pesan singkat yang datang itu
adalah sebuah pertanyaan yang tertuju
jelas untuk ku “apa yang terjadi sama kamu ?” aku ambigu dengan pesan itu dari
salah seorang teman ku “maksud mu?” lalu dia membalas “antara kamu dan dia?”
Pikiran ku mulai sadar
saat pesan singkat itu hadir kembali. AKU
??? KAMU ??? aku lupa bila pagi ini, aku dan kamu sudah benar-benar tidak
menjalin hubungan spesial. Ya hubungan dimana seorang remaja disebut ‘pacaran’
setelah perjuangan mu begitu membuat ku luluh bagai daun yang berguguran.
Saat kau menciptakan
pelangi yang berwarna-warni dalam beberapa hari ini, dalam beberapa jam ini,
dalam beberapa menit ini, dan bahkan dalam beberapa detik ini untuk ku. Namun saat
ini tak ada pelangi itu yang ada hanya mendung gelap dengan sedikit di temani
gemuruh guntur dan kilat di langit tempat ku berpijak.
Mendung yang membuat
aku lupa bahwa semalam kita mencoba untuk berakhir menjalani kisah hidup kita
masing-masing kembali. Aku tanpa mu dan kamu tanpa aku, mungkin memang berat
karena beberapa bulan ini aku dan kamu, sudah tidak usah dibahas lagi. Aku mencintai
mu bukan dengan janji yang banyak ku ucapkan tapi aku mencintai mu dengan hati.
Kamu mencintai ku bukan dengan hati tapi dengan janji yang begitu banyak kau
ucapkan pada ku. Aku mencintai mu bukan dengan tangan tapi dengan jiwa ku. Bukan
hanya sebuah tulisan yang ku ketik dengan jemari-jemari ku ini untuk mu. Bukan juga
dengan diri ku tapi dengan perasaaan ku.
Pantaskah
pelangi-pelangi yang dulu itu aku ingat??
Pantaskah pelangi-pelangi
itu untuk ku kenang dengan indah ??
Namun sangat sulit
untuk ku, karena aku menyaksikan saat kau membuat pelangi-pelangi itu di hati
ku. Mungkin aku tak mampu mengingatnya karena mendung yang di temani guntur
menyambar pelangi-pelangi yang kau buat itu. Dihancurkan dengan secepat kilat,
tepat dihadapan ku yang sedang mulai ingin melihat indahnya pelangi itu.
Apa kamu tak lelah setelah kamu habiskan waktu
mu untuk beribu-ribu detik hanya untuk membuat pelangi itu ?? namun kau
hancurkan dengan sangat cepat.
Ku kira tak usah ku
ingat perjuangan mu membuat pelangi itu. Tapi aku hanya ingin mengingatnya saat
kau membuat mendung itu. Aku bisa menciptakan pelangi kembali setelah mendung
itu hadir, mencoba menciptakannya sendiri memang tidak mudah dan seindah yang
kau ciptakan tapi itu jauh lebih baik ketimbang mendung yang datang. Spidol ini
jauh lebih indah untuk membuat warna pelangi dihadapanku. Tak hanya semu namun
dapat tersentuh jelas dihadapan ku. Terimakasih dengan pelangi yang kau buat
namun semu di hadapan ku.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar