Total Tayangan Halaman

Jumat, 06 September 2013

Saat Pelangi Menjadi Mendung


Pagi ini aku terbangun dan masih dalam keadaan lupa tak terjadi apa-apa antara aku dan kamu. Masih dalam keadaan bahagia tanpa ada masalah. Saat itu aku yang baru terbangun dari tidur, mengambil ponsel milik ku. Yang ku letakan di meja sebelah tempat tidur ku. Lalu ku tekan tombol pembuka kuncinya. Dan aku berfikir sejenak, sudah jam 5 pagi ponsel milik ku belum berdering dan tak ada ucapan “Good Morning Sayoong, jangan lupa solat subuh ya :* “ kemana makhluk itu, gumam ku dalam hati. Ahh sudahlah mungkin dia masih tertidur lelap bersama mimpi-mimpi indahnya.

Hmm sama sekali aku lupa kejadian itu. Sudah jam 6 pagi aku masih menunggu pesan singkat itu, pesan singkat yang setiap menit setiap detik selalu kamu ketik dengan jemari mu lalu ku kirim ke ponsel milik ku. Tapi pesan itu tak kunjung datang.
Tuhan.... gumam ku perlahan. Apa yang terjadi dengan aku dan dirinya ?? pertanyaan ku mulai bercabang, setiap kali ku memperhatikan ponsel milik ku itu. Apa harus aku yang terlebih dulu mengucapkan “SELAMAT PAGI” ku rasa TIDAK !! saat itu aku berfikir bahwa kamu sedang lelah dengan semua tugas mu. Mungkin !!!

Baru ku sadari saat ponsel ku berdering, cepat-cepat ku raih dan ku baca pesan singkat itu. Ku kira itu pesan singkat dari mu untuk ku -_- di pagi ini. Nyatanya TIDAK !! pesan singkat yang datang itu adalah sebuah  pertanyaan yang tertuju jelas untuk ku “apa yang terjadi sama kamu ?” aku ambigu dengan pesan itu dari salah seorang teman ku “maksud mu?” lalu dia membalas “antara kamu dan dia?”
Pikiran ku mulai sadar saat pesan singkat itu hadir kembali. AKU ??? KAMU ??? aku lupa bila pagi ini, aku dan kamu sudah benar-benar tidak menjalin hubungan spesial. Ya hubungan dimana seorang remaja disebut ‘pacaran’ setelah perjuangan mu begitu membuat ku luluh bagai daun yang berguguran.

Saat kau menciptakan pelangi yang berwarna-warni dalam beberapa hari ini, dalam beberapa jam ini, dalam beberapa menit ini, dan bahkan dalam beberapa detik ini untuk ku. Namun saat ini tak ada pelangi itu yang ada hanya mendung gelap dengan sedikit di temani gemuruh guntur dan kilat di langit tempat ku berpijak.
Mendung yang membuat aku lupa bahwa semalam kita mencoba untuk berakhir menjalani kisah hidup kita masing-masing kembali. Aku tanpa mu dan kamu tanpa aku, mungkin memang berat karena beberapa bulan ini aku dan kamu, sudah tidak usah dibahas lagi. Aku mencintai mu bukan dengan janji yang banyak ku ucapkan tapi aku mencintai mu dengan hati. Kamu mencintai ku bukan dengan hati tapi dengan janji yang begitu banyak kau ucapkan pada ku. Aku mencintai mu bukan dengan tangan tapi dengan jiwa ku. Bukan hanya sebuah tulisan yang ku ketik dengan jemari-jemari ku ini untuk mu. Bukan juga dengan diri ku tapi dengan perasaaan ku.

Pantaskah pelangi-pelangi yang dulu itu aku ingat??
Pantaskah pelangi-pelangi itu untuk ku kenang dengan indah ??
Namun sangat sulit untuk ku, karena aku menyaksikan saat kau membuat pelangi-pelangi itu di hati ku. Mungkin aku tak mampu mengingatnya karena mendung yang di temani guntur menyambar pelangi-pelangi yang kau buat itu. Dihancurkan dengan secepat kilat, tepat dihadapan ku yang sedang mulai ingin melihat indahnya pelangi itu.
 Apa kamu tak lelah setelah kamu habiskan waktu mu untuk beribu-ribu detik hanya untuk membuat pelangi itu ?? namun kau hancurkan dengan sangat cepat.

Ku kira tak usah ku ingat perjuangan mu membuat pelangi itu. Tapi aku hanya ingin mengingatnya saat kau membuat mendung itu. Aku bisa menciptakan pelangi kembali setelah mendung itu hadir, mencoba menciptakannya sendiri memang tidak mudah dan seindah yang kau ciptakan tapi itu jauh lebih baik ketimbang mendung yang datang. Spidol ini jauh lebih indah untuk membuat warna pelangi dihadapanku. Tak hanya semu namun dapat tersentuh jelas dihadapan ku. Terimakasih dengan pelangi yang kau buat namun semu di hadapan ku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Rindu tak terbendung

Sayang . . . Ucapku dalam hati Pagi ini kamu berbeda Siang ini kamu berbeda Malam ini kamu berbeda Aku tak tahu ini Mengertimu menurut...