Total Tayangan Halaman

Kamis, 28 Maret 2013

☆ Steven Gerrard : Aku bukan pahlawan☆


Steven Gerrard : Aku bukan pahlawan



Cerita ini dimulai dari seorang pemuda pemalu kelahiran Whiston, Inggris. Steven Gerrard namanya, ditolak ketika ingin masuk akademi sepakbola FA saat berusia 14 tahun. Diapun tak terpilih dalam skuat Timnas Inggris usia 15 tahun. Namun ketika Inggris menggelar laga uji coba internasional melawan Swedia di Stockh olm jadi hal yang sangat istimewa bagi gelandang yang telah ditetapkan sebagai legenda Liverpool tersebut.
Gerrard menjadi sedikit dari sekian banyak orang Inggris yang mampu tampil memperkuat The Three Lions mencapai 100 pertandingan. Hanya ada enam pemain dalam kurun waktu lebih dari 140 tahun mampu mencapai 100 caps untuk The Three Lions.

"Mencapai ini adalah sesuatu yang tidak saya bayangkan sebelumnya. Memperkuat Inggris di 100 pertandingan adalah sesuatu yang tak bisa dipercaya buatku dan keluargaku. Ketika membicarakan ini bulu kudukku jadi merinding," kata Gerrard dilansir dailymail.co.uk, Rabu (14/11/2012).

Memang ada sebuah kebanggaan tersendiri ketika Gerrard mampu mencapai hal tersebut. Apalagi hanya sedikit pemain dalam kurun waktu puluhan tahun yang mampu mencapainya.

Berawal dari sebuah panggilan pelatih Timnas Inggris tahun 2000, Kevin Keegan, Gerrard pun terus melenggang menjadi duta Inggris di setiap turnamen besar.

Kemenangan 5-1 Inggris atas Jerman di Muenchen pada tahun 2001 adalah kenangan terindah yang pernah diukir Gerrard. Saat itu dia mencetak gol perdana dan menyatakan itu adalah momen emas sepakbola Inggris secara umum.

"Saya ingin mengatakan bahwa saat itu adalah tim terkuat Inggris yang pernah saya mainkan. Kami punya tim berimbang antara pemain muda dan tua. Kami juga memiliki beberapa pemain kelas dunia," ujar Gerrard.

Namun tak semua kenangan itu indah. Kenangan terburuk yang pernah dirasakan pemain yang biasa dipanggil Stevie-G ini adalah ketika dia gagal mengeksekusi penalti ke gawang Portugal di Euro 2004 dan Piala Dunia 2006 hingga menyebabkan Inggris keluar dari turnamen tersebut.

"Kami selalu tidak beruntung ketika adu penalti. Mengambil penalti untuk tim Inggris seperti sebuah hukuman yang sangat berat. Kaos yang saya pakai terasa sangat berat dan selanjutnya Anda harus bertanggung jawab atas hal tersebut," ungkapnya.

Di usia yang sudah 32 tahun, Gerrard tentunya menyadari bahwa dirinya takkan lama lagi pensiun dari timnas. Untuk itu dia segera memandang masa depan Inggris dengan beberapa generasi yang akan melanjutkannya.

"Generasi muda sekarang punya tantangan yang lebih berat. Sebab semua orang ingin mengetahui Inggris. Ada banyak media yang akan menyaksikan Sky, ESPN, Al Jazeera, dan media sosial akan menyaksikan mereka," katanya.

Namun demikian, Gerrard tetap optimistis dengan masa depan sepakbola Inggris jika melihat beberapa penerusnya seperti Jack Wilshere, Raheem Sterling, atau Wilfried Zaha yang sudah mulai nampak matang.

"Memiliki pemain seperti Wilshere adalah sebuah keberuntungan buat Inggris. Dia pemain fantastis dan bertalenta. Dan jika kami bisa menghasilkan banyak pemain seperti Wilshere maka kami akan bisa berbicara banyak di turnamen-turnamen internasional," katanya.

Pada akhirnya Gerrard sebenarnya masih bisa jadi pahlawan Inggris dengan memecahkan rekor legenda Timnas Inggris Peter Shilton yang mencapai rekor penampilan 125 caps buat Three Lions. Tapi Gerrard ternyata mengaku bukan seorang pahlawan.

"Dalam sepakbola, status pahlawan atau legenda terlalu mudah diberikan. Sejauh ini Inggris hanya memiliki 11 pahlawan yang telah berhasil menjuarai Piala Dunia. Sisanya yang lain belum benar-benar bisa dikatakan pahlawan," pungkas Gerrard.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Rindu tak terbendung

Sayang . . . Ucapku dalam hati Pagi ini kamu berbeda Siang ini kamu berbeda Malam ini kamu berbeda Aku tak tahu ini Mengertimu menurut...