Total Tayangan Halaman

Selasa, 29 Mei 2018

Belum waktunya dan terpleset lagi

Hanya dipandang sebelah mata

Hanya tim medioker

Hanya tim pemanis yang akan terbantai

Hanya dijuluki sebagai kuda hitam di ajang perebutan si kuping caplang di benua Eropa

Dapat masuk ke zona liga champions saja Liverpool hanya mampu finish di peringkat ke 4 liga primer Inggris. Mereka harus melewati fase play-off. Banyak yang tidak menyangka Liverpool dapat sejauh ini ajang termegah dunia sepakbola. Masuk sampai Final liga Champions. Walau akhirnya kami harus terpleset lagi dan selalu 'Tahun depan kami akan juara'


Perjuangan mereka juga tidak mudah, mereka harus melawan hoffeinhem di babak play off. Mereka menang 1-2. Liverpool FC di Liga Champions musim 2017-2018 ini.  Selain tentunya kita sebagai suporter, tak banyak yang meyakini perjalanan The Reds bisa sampai pada partai final. Liga Champions. Kita tentu masih demam panggung meski sudah mengoleksi lima trofi, partisipasi di Liga Champions tahun ini merupakan kali pertama sejak dua musim silam Liverpool gagal masuk langganan big four liga Inggris.

Sedikit kilas balik, petualangan The Reds kembali ke habitatnya memang tak mudah. Tidak pernah menang dalam dua laga awal versus Sevilla dan Spartak Moskva di fase grup jadi penyebabnya. Belum lagi faktor non-teknis seperti drama kepindahan Philippe Coutinho yang berlarut dan cukup memengaruhi starting eleven Liverpool di awal musim. Karena Cou merupakan pemain kunci untuk Liverpool. Drama yang sudah terjadi sejak bursa transfer 2017 yang tak kunjung usai dan akhirnya dia (Coutinho) memutuskan untyk bergabung dengan Barcelona. Dimana cou tidak bisa ikut berpartisipasi di Liga Champions karena namanya masih terdaftar dalam Skuad The Reds.


Tak hanya sampai situ di babak 16 besar Liverpool harus bertemu dengan porto. Dan Alhamdulila bisa menang 5-0. Meski lolos ke fase gugur dengan cukup meyakinkan dua diantaranya menang lewat tujuh gol ke gawang NK Maribor dan Spartak. Tim yang di pimpin oleh Jordan Henderson bukanlah kandidat kuat juara. Di sana masih ada nama-nama Bayern Muenchen, Juventus, Paris Saint-Germain, FC Barcelona, dan lawan di final, Real Madrid. Bahkan Manchester City saja, Liverpool disebut tak memiliki peluang lebih besar.


Namun takdir berkata lain. Diperempat final Liverpool harus berjumpa tim satu negaranya Man. City jadi lawan The Reds selanjutnya setelah menumpaskan jawara Liga Portugal, FC Porto. Sempat diprediksi akan jadi akhir dari perjalanan di Liga Champions musim ini, Liverpool melangkah gagah ke semifinal lewat kemenangan baik di kandang maupun tandang. Liverpool sukses memporak porandakan gawang Enderson lolos dari perempat final dengan aggregat 5-1.


Anak asuh Juergen Klopp masih harus menghadapi AS Roma, yang pada babak sebelumnya secara mengejutkan menjungkalkan Barcelona. Tim bertabur bintang ini mampu disingkirkan oleh Srigala ibu kota. Saya sebagai fans Liverpool langsung merasakan hal 'apa harus gugur saat menghadapi Roma ?' Barcelona saja mampu di comeback dengan skor telak. Namun Liverpokl membuktikan diri bahwa mereka pantas melaju ke Final.


Tak tanggung-tanggung lawan Liverpool di Final adalah Madrid tim dengan torehan koleksi piala Liga Champions terbanyak di jagat raya 13 trophy. Loris Karius yang sempat dikritik pada awal kariernya di Liverpool, Andy Robertson yang beberapa tahun lalu masih berstatus pemain dari klub amatir, Trent Alexander-Arnold yang menjelma dari bocah akademi menjadi salah satu fullback terbaik Inggris, hingga Dejan Lovren dan Jordan Henderson yang kerap diragukan kapasitasnya. Tak terkecuali trio lini depan yang tersohor. Dengan sebutan Firmansah.


Utamanya Mo Salah. Dikenal sebagai pemain yang dibuang chelsea awal kedatangannya ke Anfield, trofi Liga Champions akan terasa sangat manis baginya untuk jadi pembuktian kepada semua pihak yang sempat meragukannya. Bahkan, Salah bisa jadi pembuktian, bahwa gelar Pemain Terbaik Dunia nanti tak sekadar dua nama Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi saja.

Namun malam itu tepat pukul 01.45 saya terbangun memang sudah ingin menonton Bobby dan kawan-kawan di Final Liga Champions. Untuk jalannya pertandingan 25 menit awal Liverpool menggempur dan menyerang pertahanan Madrid lewat aksi Mo Salah, Mane, Firmino bahkan Trent Arnold juga membantu serangan. Menit 25 harus ada insiden dari Ramos yang melanggar keras Mo Salah. Memang permainan Liverpool terlalu mengandalkan Salah namun ah sudahlah tak bisa saya jelaskan betapa kerasnya bantingan Ramos untuk Salah. Akhirnya salah harus digantikan oleh Adam Lallana karena mengalami cedera bahu. Melihat Salah menangis saya jadi ikut menangis. Dia menangis bukan karena cengeng, namun dia menangis karena tidak bisa melanjutkan pertandingan. Andai salah tidak cedera mungkin piala itu bisa kami bawa ke Anfield.

Liverpool harus kebobolan lewat gol Benzema yang seharusnya tak perlu masuk kegawang si tampan karius. selang beberapa menit Sadio Mane mampu menyamakan skor menjadi 1-1 hingga pluit babak pertama di tiup wasit. menit 65 di masukannya Gareth Bale oleh Zidane mampu membobol gawang karius lewat gol salto bale. Disini saya masih mencoba untuk optimis jika memang harus perpanjangan waktu dan adu pinalti. namun ketika menit 85 gol kedua bale, mampu merobek hati para kopites. lemas rasanya sedih piala didepan mata untuk membuka puasa gelar bertahun-tahun harus sirna oleh seorang Gareth Bale.

Kami terpleset lagi. 5 tahun terakhir tiga piala yang sudah didepan mata harus Kandas. Liga primer Inggris Hampir pasti menjadi milik Liverpool kala itu Andai saja Capten tak terpleset. Kami sudah berbuka puasa gelar. Lalu Final Liga Europa League Namun kami harus terpleset lagi. Kami tunduk oleh Sevilla 3-1. 

Dan lagi terjadi peristiwa terperih yang selalu kau beri seakan ......

oke lagi ga nyanyi . Kami Malam ini (27 Mei 2018) harus kembali terpleset lagi diajang Liga Champions Eropa . Kuping Caplang itu sudah berada di dekat kami, kami hampir pasti meraihnya. Namun Ternyata piala-piala itu belum ingin berlabuh di kota pelabuhan.



terlepas dari itu saya sebagai salah satu dari sekian juta kopites tetap dan akan selalu mendukung Liverpool. tanpa menyalahkan para pemain yang sudah berjuang keras untuk membahagiakan fansnya.

You'll Never Walk Alone Reds !!!

Rindu tak terbendung

Sayang . . . Ucapku dalam hati Pagi ini kamu berbeda Siang ini kamu berbeda Malam ini kamu berbeda Aku tak tahu ini Mengertimu menurut...