Tentang
kita terpaksa berakhir
Dalam sebuah cerita
ku ...
Dalam sebuah hidup
ku ...
Dalam sebuah
perasaan ku ...
Dalam perjalanan
kasih ku bersama mu ...
Apakah harus
berakhir ???
Apakah aku harus
menyerah ???
Apakah hanya sampai
sini ???
Dan akhirnya satu
kata “Menyerah” itu yang terucap dari mulut ku saat ini, saat aku harus
terhapus perlahan didalam hati mu, saat aku harus terhapus perlahan di pikiran
mu, dan saat aku harus terhapus perlahan di setiap langkah cerita hidup mu.
Bukan menyerah
karena aku sudah bosan dengan mu,
Bukan karena aku tak
sayang lagi pada mu,
Bukan karena aku
tlah menemukan yang lebih dari mu ...
Namun, karena
perjuangan ku yang mungkin kau abaikan, kau hempaskan ku jauh dari diri mu. aku
memaksa diri ku untuk menyerah memperjuangkan mu. memperjuangkan aku dan kamu yang
pernah menjadi “KITA” , Iya kita yang dulu yang selalu berbagi cerita bersama
walau hanya melalui sebuah benda persegi panjang dengan ukuran 8 x 4 cm. Sebuah
ponsel yang menjadi saksi jalan cerita cinta kita beberapa bulan ini, beberapa
hari ini, beberapa jam ini, beberapa menit ini, dan bahkan beberapa detik ini. Yang
kita habiskan bersama untuk menggorekan senyum masing-masing.
Aku terpaksa
menyerah dengan semua ini yang sejujurnya aku masih ingin untuk memperjuangan
mu dan KITA. Hari ku yang mungkin sedikit berbeda saat bersamamu beberapa bulan
ini. Aku yang selalu menggaggu aktivitas mu. hanya sekedar ingin tau kabar mu
dan kamu yang selalu memberikan semangat untuk ku. Aku tak tahu semua yang kau
berikan padaku. Perhatian mu yang membuat ku melangkah semakin dalam untuk mencintai
mu dengan tulus. Aku tak pernah berpikir hubungan ku akan seperti ini bersama
mu. tak pernah sedikitpun, yang kubayangkan aku akan selalu bersama dengan mu
dan menggenggam erat tangan mu.
Aku tak tahu kenapa
harus aku yang merasakan seperti ini
Aku tak tahu kenapa
harus sesakit ini, saat semua ku anggap akan baik-baik saja
Sebenarnya aku tak
ingin semua ini berakhir dengan cepat, aku ingin mempertahankan mu. masih ku
ingat saat pertama perkenalan kita 19 mei 2013, masih ku ingat saat pertama
pertemuan kita di bulan puasa. Kamu datang dari belakang dan menyapa ku, lalu
menarik tangan ku perlahan. Tatapan mata mu yang seakan membuat senyum ku
terlarut karena mu. Apa kamu masih mengingatnya ? tampak pucat tangan ku saat
ada disamping mu. gugup yang kurasakan saat pertama pertemuan kita disalah satu
tempat makan.
Aku sadar aku hanya
adik kelas polos menurut mu yang selalu menjadikan mu sebuah contoh untuk ku. Kamu
selama satu tahun ini ada untuk ku yang selama ini aku kagumi mu. Sayang, saat
ini aku sadar aku bukan siapa-siapa lagi untuk mu, aku tak pernah merasakan
panggilan “sayang” lagi di ponsel milik ku. Saat semua yang indah ku ingat
ingin rasanya aku memeluk mu untuk sekejap. Ingin melepaskan rasa sayang ini
bersama mu.
Ku pikir kamu
tersenyum saat ini, tapi entah aku tak mengerti masih begitu ambigu dengan
semuanya. Seorang yang mungkin datang semaunya yang membuat hubungan ini kandas
ditengah jalan. Seorang yang mungkin bahagia dan merasa menang saat ini. Aku bukan
kalah tapi aku menyerah tak ingin memperjang semuanya karena terlalu sakit. Makhluk
sejenisku yang tega menghujam hati ku, yang berusaha memisahkan KITA. Yang ku
pikir dia tidak memiliki kehidupan yang menyenangkan, hanya bisa merusak
kebahagiaan ku saat ini. Kamu tau ? disini mungkin aku tidak akan dan tidak
akan pernah lupa tentang duri yang kau tancam kan di jemari ku, tenang cinta
yang mungkin sekedar kenangan kita.
Perjuangan ku yang
mungkin berakhir, tapi tidak dengan rasa dan sesak di hati ini tidak mudah
untuk terhapus walaupun waktu terus berjalan - @anggitachmelo


